(0387) 123456 info@sumbatengahkab.go.id 28°C Waikabubak
Sumba Tengah Sejahtera
Membangun daerah dengan semangat gotong royong

Perjalanan Sejarah Sumba Tengah

Dari masa kerajaan tradisional hingga menjadi kabupaten otonom modern pada tahun 2007

Abad ke-14
Zaman Kerajaan Marapu

Pulau Sumba khususnya wilayah tengah telah dihuni oleh masyarakat penganut kepercayaan animisme Marapu. Masyarakat hidup dalam sistem kerajaan kecil yang berpusat di sekitar kampung adat dan persatuan marga (klan).

1846
Kedatangan Kolonial Belanda

Wilayah Sumba Tengah mulai dijamah oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Perjanjian-contract politik dengan raja-raja lokal mulai ditandatangani sebagai upaya penaklukan tidak langsung (systeem van ver bondgenootschappen).

1942 - 1945
Pendudukan Jepang

Pulau Sumba diduduki oleh Tentara Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Periode ini banyak membawa perubahan sosial dan politik dalam struktur masyarakat Sumba.

1950
Masuk Negara Indonesia

Bersama dengan wilayah Nusa Tenggara Timur lainya, Sumba resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selama periode ini Sumba Tengah menjadi bagian dari Kewedanaan Waikabubak di bawah Kabupaten Sumba.

1958
Terbentuknya NTT

Provinsi Nusa Tenggara Timur terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 64/1958. Kewedanaan Waikabubak resmi menjadi bagian dari Administrasi Pemerintahan tingkat Kabupaten Sumba.

2007
Pembentukan Kabupaten Sumba Tengah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2007, Kabupaten Sumba Tengah resmi diresmikan sebagai kabupaten otonom baru hasil pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat bersama Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Timur. Ibu kota kabupaten ditetapkan di Waikabubak.

2007 - 2012
Periode Transisi & Pemerintahan Pertama

Pemerintahan Kabupaten Sumba Tengah periode pertama dipimpin oleh Bupati dan Wakil Bupati hasil Pilkada pertama. Berbagai program dasar dimulai guna membangun pondasi daerah yang baru terbentuk.

2012 - 2017
Akselerasi Infrastruktur

Periode kedua dimulai dengan fokus pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan fasilitas pendidikan serta kesehatan dasar. Jumlah desa yang teraliri listrik meningkat pesat.

2017 - 2021
Era Digitalisasi

Pemkab mulai menerapkan sistem informasi manajemen pemerintahan berbasis digital. Jaringan internet masuk ke 50% wilayah pedesaan. E-government dan aplikasi layanan online mulai diperkenalkan.

2021 - 2026
Periode Kepemimpinan Saat Ini

Pembangunan fokus pada peningkatan kualitas SDM, pengembangan potensi unggulan (tenun, kopi, pariwisata), penguatan UMKM, penanganan stunting, pengelolaan dana desa, dan pelayanan publik berbasis digital melalui Program Smart Village.